Belonging [8]

on

belonging

Belonging 8

Maincast || Park Jiyeon and Byun Baekhyun

Support cast || Nam Woohyun and Han Yuna[OC]

Merancang masa depan berdua…..

Atau sendiri?

Baekhyun yang labil dan kekanak-kanakkan, Yuna yang posesif, Woohyun yang sok dewasa dan menggurui, tapi juga perhatian dan ambisius. Jiyeon di kelilingi orang-orang tak jelas.

Puk

Pundaknya ditepuk, jarak pandang mereja sekitar satu lengan. Pria yang memakai penutup hoodynya itu hanya menatap kemudian melangkah melanjutkan perjalanan, seakan memberi kode pada Jiyeon untuk mengikuti. Jangan bilang kalau di labil itu punya sarang baru untuk mengerami sifat kebocahannya yang ambigu.

Dia pasti muncul,

Memang sudah diperkirakan Jiyeon, pria labil itu akan muncul tanpa di minta. Menghindari pernikahan, dan menyembunyikan diri dari dunia dan tuntutan. Memangnya dia sehebat itu—

Baekhyun mengajak Jiyeon menyusuri jalan setapak sempit, menanjak. Tidak jauh dari persimpangan tadi, dia berhenti di depan sebuah pintu pagar rumah sederhana setinggi dua meter.

”Rumah siapa ini?”

”Rumah nenekku.”

”Kau punya nenek?”

”Memangnya siapa yang melahirkan ibuku, jika tidak ada nenek.” gerutunya, dan Jiyeon hanya mengangguk dengan cibiran. Oke,dia punya nenek, tapi nenek dari mana…maksud gadis ini, bukankah selama ini dia sudah dipastikan sebagai anak adopsian.

”Apa nenekmu masih hidup?”

”Sudah meninggal.” jawabnya sambil membuka pintu pagar, dan menyuruh Jiyeon masuk.

Pintu itu sempit, jadi mereka harus bergantian memasukinya. Ketika di dalam pagar, yang Jiyeon lihat itu ada banyak beberapa tanaman. Jika memang ini rumah neneknya, wajar jika halaman rumah yang tidak luas ini di isi oleh berbagai macam tanaman hias.

 

”Rumah ini kosong?”

”Ya, aku yang menempatinya sekarang.”

”Sebenarnya aku masih bingung.” Jiyeon mengikuti langkah Baekhyun hingga mencapai pintu.

”Bingung apa?”

”Nenekmu dari mana?”

”Aku selama ini menyelidiki keluargaku, dan kebetulan ketika aku bertanya pada kantor pelayanan masyarakat, aku menemukan seseorang yang mengenal dengan ibu kandungku. Dia mengatakan padaku, bahwa ada seorang wanita yang menanyakan bayi yang dulu pernah diadopsi oleh keluarga Byun.

”Keluarga Byun itu banyak.”  celetuk Jiyeon

“Ya, tapi hanya satu yang bekerja sebagai pelayan di rumah keluarga Byun, dan itu adalah ibu kandungku.” Jelas pria ini ketika mendorong pintu, dan lagi-lagi menyuruh Jiyeon masuk.

”Beruntung kau menemukan keluarga sedarahmu.”

”Hm.”

Baekhyun melepaskan hoody dan menyampirkannya di punggung sofa, kemudian berjalan ke arah pantry yang posisinya berhadapan dengan ruang tamu. Rumah ini tidak luas, dan memang hanya sederhana saja malah terkesan sempit dengan hanya dua kamar tidur, dan ruang serba guna yang saat ini sedang di tempati Jiyeon. Dia duduk di lantai, menghadapi meja kayu.  Sedangan pria labil itu sibuk di dapur.

”Aku tidak habis pikir, kenapa Yuna bisa hamil.” omongnya sambil membuka pintu lemari pendinginnnya, mengambil sebotol air dan membawanya ke depan Jiyeon.

”Kau tidak menghamilinya?”

”Tentu saja tidak, aku tidak pernah tidur dengannya.”

”Dia berbohong lagi. Apa kau tau itu ide siapa?”

”Maksudmu?”

Jiyeon memainkan bola matanya, memikirkan apa yang pernah dikatakan Woohyun padanya. ” lupakan!” sambungnya

”Kau bertemu dengan Yuna?”

”Hm, dia memakiku.”

”Jangan dengarkan!”

”Tidak.”

”Dia pasti putus asa.”

Jiyeon meluruskan kaki hingga menyentuh kaki Baekhyun. Mereka saling menatap sebentar—

”Aku hanya curiga mungkin ada sesuatu diantara mereka.”

”Siapa maksudmu?”  Baekhyun mendorong tubuhnya maju, hingga tangannya tertumpang di atas meja. Sorot matanya menelisik dalam pada pemikiran Jiyeon

”Antara dua manusia itu, Yuna dan Woohyun. Apa kau tidak curiga mereka bersekongkol untuk membuat kita terpisah.”

”Hm, sekarang kau baru paham, kalau temanmu itu berhati musang.”

”Aku belum yakin, Oppa. Kau tau sendiri, kalau Yuna pun punya kecenderungan untuk memilikimu dengan berbagai cara.”

”Sebenarnya apa yang dia lihat dari diriku?”

Jiyeon mencibir, ”Ya, aku juga bingung, padahal kau tidak tampan, tidak kaya, tidak terkenal, pendek, tidak proposional, bukan pria idola, dan lebih-lebih kau tidak punya penghasilan tetap. Apa yang dia lihat dari dirimu.” tambah Jiyeon

”Yang benar saja, jangan berlebihan mendramatisir kondisiku. Aku tampan. Apa kau pikir aku tidak menarik?”

Jiyeon terkekeh,

”Kalau aku tidak tampan, kau tidak mungkin menyukaiku bukan?”

”Aku menyukaimu, bukan karena kau tampan. Tapi karena kita sudah terbiasa bersama sejak kecil. Kita mempunyai banyak kesamaan, termasuk sebagai yatim piatu yang sama-sama diadopsi oleh keluarga Byun.”

”Apa yang paling kau sukai dari diriku?” sekarang pria ini menggeser duduknya mendekati Jiyeon, menarik tubuh gadis itu untuk masuk dalam pelukannya. Wajah Jiyeon bersemu merah. Apa daya, dia memang menyukai Baekhyun dengan caranya sendiri.

”Aku tidak tau apa yang membuatku begitu menyukaimu, Oppa. Mungkin karena memang aku menemukan diriku merasa nyaman dan tenang seperti ini ketika bersamamu.”

”Padahal aku sering membuatmu marah.”  Kecupan Baekhyun mendarat di pipi Jiyeon.

”Ya, kau sering membuatku marah, tapi itu adalah hal yang normal. Kita bertengkar, dan berbagi emosi, itu sangat manusiawi. Kita tidak menutupi apapun, dan bersikap apa adanya. Kurasa itu yang membuatku merasa bahwa kita mungkin bisa saling memiliki untuk waktu yang lama.”

”Kau manis sekali.”

”Hm.”

”Ayo kita menikah, dan tinggal di sini.”

”Ya. Aku juga berpikir begitu. Jika Yuna sudah begitu nekad ingin memilikimu dengan cara liciknya, memang harus ada yang bisa menghentikannya untuk berbuat seenaknya seperti itu.” ucap Jiyeon dengan nada emosi yang tinggi.

”Kalau kau yang hamil, aku tak akan berpikir lama untuk menikahimu, meskipun kehamilan itu bukan benihku sekalipun.” bisik pria ini menggoda,

”Kau bodoh, bagaimana mungkin aku menyerahkan tubuhku pada pria lain. Aku hanya bercinta denganmu Oppa.”

”Hm, kau mau lagi?”  bisikan itu berlanjut denga pergerakan Baekhyun yang mendadak menjatuhkan tubuh Jiyeon ke lantai dan menindihnya. Dia memberikan ciuman dan beberpa sentuhan di sana sini, hingga membuat Jiyeon menggeliat dan mendesah.

”O..oppa!”  Jiyeon mendorong tubuh itu, dan menarik oksigen sebanyak mungkin setelah beberapa menit melepas kerinduan.

”Apa?”  Baekhyun bingung

”Aku tidak ingin bercinta saat ini.”

”Hhhhh!” memasan wajah kecewa

”Apa kau lapar?”

”Sedkit.”  Baekhyun beranjak dari atas tubuh Jiyeon dan kembali duduk, sambil memperhatikan ruangan rumah ini yang sudah dia tempati untuk beberapa hari lamanya. Neneknya meninggalkan rumah ini hanya untuknya.

Biarpun ini tidak bagus, tapi paling tidak rumah ini adalah peninggalan dari keluarganya yang memang bukan orang kaya.  Dia akan membangun masa depannya di sini bersama Jiyeon, itu harapannya.

Gadis itu berjalan ke dapur, dan melihat-lihat apakah ada sesuatu yang bisa dia masak dan makan.

”Kau tidak punya apa-apa, Oppa.”

”Kau bisa memetik beberapa sayuran yang masih tersisa di halaman depan.”

”Siapa yang menanamnya?”

”Sewaktu rumah ini belum kutempati, ada orang yang menempatinya, dan dia yang menanam semua tanaman sayur itu.”

Jiyeon memakai sandalnya, dan berjalan ke luar dari rumah. Baekhyun hanya mengikuti dari ujung matanya saja. Dia bisa melihat Jiyeon dari jendela yang terbuka. Tepat di bawah jendela itu, beberapa tanaman wortel dan sawi juga daun bawang di tanam di lahan sempit. Lumayan, untuk di masak.

”Rumah ini tidak besar, tapi sangat nyaman.”

”Aku tau maksudmu, Jiyeon. Aku juga bisa merasakannya.”

”Aku mau menikah dan melahirkan anakmu di rumah ini, Oppa.”  Jiyeon mengatakannya dengan malu-malu, sementara Baekhyun tak bisa menahan senyuman.

”Kita akan menikah secepatnya.” serunya kemudian

Beberapa menit berlalu, dan Jiyeon sudah selesai dengan menu yang dia masak dengan cara yang sederhana  itu. Mungkin ini memang bukan masakan yang  sempurna, tapi dia merasa senang. Dibalik semua kemelut yang mereka sedang hadapi saat ini, entah kenapa perasaan saling memiliki ini begitu kuat dan menguatkan.

”Apa kau akan kembali ke rumah Eomma ?” Baekhyun bertanya serius saat dia menyuapkan soup itu ke dalam mulutnya. Jiyeon mengangguk, karena memang itulah yang harus dia lakukan. Dia tidak mau, semua orang akan curiga.

”Jangan katakan apapun pada mereka mengenai aku.”

”Tentu saja tidak!”

”Aku akan menemui Eomma, jika waktunya sudah tepat. Dia selalu menganggapku sebagai anak yang tidak bertanggung jawab.”

”Itu wajar, karena dia tidak tau hal yang sebenarnya. Kenapa kau tidak mengatakannya Oppa, aku yakin Bibi pasti bisa memahamimu, mendengarkanmu.”

”Aku sudah mencobanya, tapi apa kau tidak melihat, kalau kedua orang tua Yuna tidak terima kondisi ini. Mereka memaksa.”

”Apa jadinya jika kau menikahi Yuna, dan meninggalkan aku sendirian begini.”

”Paling tidak jika kita menikah lebih dulu, dan kau hamil maka mereka tidak akan mengganggu kita lagi, dan persetan rencana busuk Yuna yang mungkin seperti kau bilang tadi, dia akan berpikir ulang untuk menikah denganku, dan memilih pria yang sudah membuatnya hamil.”

Jiyeon mengangguk,  ”Makanlah dulu.”

”Hm.” jawabnya, dan ponsel Jiyeon berbunyi. Gadis itu menelitinya dulu sambil menyipit sebentar.

”Woohyun.” tapi Jiyeon tak menjawabnya, membiarkan bunyi itu berhenti dengan sendirinya.

”Kenapa kau tidak menjawab?”

”Aku kesal karena dia sekarang pro terhadap Yuna.”

”Sudah kubilang dia itu brengsek, hanya saja dia pintar bersandiwara. Kau tau, wajah tenang, prilaku baik, tidak menjamin bahwa hatinya akan baik juga.”

Lagi-lagi Jiyeon mengangguk, setuju atas omongan sepupunya. Mereka saling menatap dan melempar senyum. ”Kau terlihat dewasa jika sedang bicara baik-baik!”

”Aish Jinjja!” keluh Baekhyun sambil menendang kaki Jiyeon di bawah meja, tapi kemudian kaki gadis itu dibiarkan selonjor hingga akhirnya mereka saling tumpang tindih kaki di bawah sana. Senyum-senyum aneh menghiasi suasana, sampai mereka selesai dengan agenda makan dengan porsi yang memang tidak banyak itu.

”Aku akan segera pulang, Oppa.”  Jiyeon merapikan meja dan membawa semua mangkok dan piring kembali ke dapur. Dia cekatan mencuci semua itu, dan kembali pada Baekhyun yang tengah terbaring di lantai.

”Aku berharap kau menginap dulu, Jiyeon.”  ucapnya dengan mata terpejam,

”Aku tidak mau mereka curiga. Di saat kau menghilang, aku juga menghilang, itu kan tidak lucu.”

Baekhyun membuka matanya, dan mengawasi kekhawatiran gadis yang kemudian menyanding di sebelahnya.

”Bawakan aku beberapa baju dari apartemenku, jika kau sempat ke sana.”

”Bagaimana dengan proses promosi album barumu, Oppa?”

”YA, mereka mencariku, dan sepertinya kesal karena tidak bisa menemukanku di manapun.”

”Itu yang tidak aku suka darimu.” wajah Jiyeon merengut

”Aku akan menenangkan diri sementara waktu ini.”

”Tapi kau akan terkena sanksi karena sudah melanggar kontrak yang sudah kau tandatangani.”

”Hanya sebentar, nanti aku akan menghubungi managerku, dan menceritakannya. Aku yakin dia pasti mengerti kondisi ini.”

”Terserah kau saja.”

.

.

.

Jiyeon kembali ke rumah, dan menemui Bibinya yang sedang termenung di sofa sendirian. Wanita itu tampak begitu berat memikirkan Baekhyun. Kasihan.

”Jiyeon!” panggilnya, dan langkah Jiyeon terpaksa berhenti sebelum menaiki tangga, menghampiri Bibinya yang sudah berdiri menatapnya—curiga.

Jelas dia akan curiga, tapi Jiyeon tak akan larut dalam pemikiran itu, dan menunggu apa yang akan dikatakan wanita itu dengan beban hatinya yang terbaca di sorot matanya.

”Kau dari mana?”

”Dari rumah Hyeri.” jawab Jiyeon seperti rencana semula tadi. Skenario yang sudah dia susun untuk berbohong.

”Apa kau bertemu dengan Baekhyun?”

”Tidak. ”

”Hhh…” keluhnya gelisah

”Kenapa Bibi?”

”Yuna, masuk rumah sakit, dan dia berusaha bunuh diri dengan semua masaahnya ini.”

Jiyeon tercekat sebentar, ”Bunuh diri?”

”Dia merasa depresi dengan tingkah Baekhyun yang seenaknya sendiri menolak menikahi Yuna, padahal dia sedang hamil.”

”Bibi, apa Bibi tidak berpikir,mungkin saja bukan Oppa yang menghamili Yuna.”

”Aku sudah bertanya itu pada Yuna, dan keluarganya tidak terima. Kau pikir Bibi tidak pusing memikirkan semua ini, Jiyeon. Kalau saja Bibi tau apa yang bisa Bibi lakukan.”

”Bibi…sabar ya!”  tadinya Jiyeon ingin mengatakan di mana Baehyun berada tapi, diurungkan…. dia sudah berjanji pada Baekhyun untuk merahasiakan keberadaannya.

”Bibi malu—” hanya kalimat itu yang meluncur dari mulutnya, sementara Jiyeon menghela nafas panjang. Kasihan Baekhyun, dan keluarga Byun yang namanya ikut tercoreng akibat ulah dari pelacur itu. Kenapa dia mau saja dihamili dan sekarang malah  meminta pertanggungjawaban dari pria lain. Dia pikir, hidup ini dia yang punya?

Jiyeon berjalan meninggalkan bibinya, yang masih berusaha untuk mencari cara untuk memecahkan persoalan ini.

Yuna mencoba bunuh diri.

Yang benar saja. Apa itu sebuah skenario baru lagi untuk menjebak Baekhyun. Jangan-jangan semua itu dia memang rencanakan bersama Woohyun. Si Brengsek itu—

Jiyeon mengambil ponselnya, dan berniat menghubungi Woohyun, tapi kemudian dia tersadar—mungkin lebih baik jika dia pura-pura tidak tau, dan menyelidiki ini dengan caranya sendiri. Siapa tau, apa yang dia sangka ini benar.

Woohyun…kenapa dia sampai setega ini?

.

.

.

Bersambung

 

Advertisements

11 Comments Add yours

  1. Rara Jiyeonni says:

    Iya mungkin saja woohyun yang hamilin/cowok lain lagi.
    Kan si yuna kenal juga ama woohyun sbelum jiyeon kenal woohyun.

  2. loveJiyeon says:

    Snang kmu update lg thor..jgn2 anak yg dihamili yuna itu hasil buatan woohyun??dsar brengsek 2 org..haha..aq suka jiyeon sama baekhyun bisa brsatu lg..moga aja mreka cpat mnikah supaya yuna gak bisa maksa2 baek buat nikahi dia lg..smoga jiyeon brhasil mnyelidiki msalah ini..fighting jiyeon…smangat juga buat next update nya thor..

  3. kwonjiyeon says:

    Akhirnya……..baekhyun cowķ labil yg sedang memilh…

  4. Just Me says:

    Sepertinya aku sudah melewatkan beberapa part dari cerita ini.. Hmm sejak kapan Baekhyun pergi dari apartmentnya? Sejak kapan ada Yuna hamil? Apa iya itu semua rencana Yuna dg Woohyun? hmm sepertinya aku harus menelisik cerita kebelakang dl

  5. Sookyung says:

    sudah berapa lama ya ff ini ngga muncul2, ????? ^^
    tp senangnya akhirnya lana bisa update kelanjtan ff baekji ini lg ^^

    1. mochaccino says:

      aku kambek duyu di sini, untuk nyesein ff lama.

  6. Sookyung says:

    sebenarnya siapa appa dr anak yg dikandung yuna? baekhyun kah??? tp baekhyun bilang tdk perna tdr dg yuna, lalu siapa coba yg prn tdr dg yuna???????

    1. mochaccino says:

      yang jelas bukan suami akuh…

  7. Dwiki says:

    Moga aja masalah mereka cepet selesai. Kasian baekhyun sama jiyeon blum bisa bersatu. Uhhhh dasar si yuna yeoja licik. Apa woohyun benrn licik juga? Kalo iya apa motif nya?

  8. Waah baeky dh selidiki ttg asal usul na..bhkn ada peninggalan rmh tuk na..rmh impian dg jiyi 😄
    Hiiii yeoja tu bnr2 dech, pengen jebak baeky

  9. peyon93 says:

    aahh, minta di cocol tu yuna hmm… duh baru liat wp trnyata kak alana dah balik kesini hehhe rindu ini ff T.T

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s