More & More [13]


More And More 13

Maincast || Park Jiyeon and Wu Yifan

.

.

.

 

 

 

 

 

 

“Tn. Wu, haruskah saya melakukan konfirmasi ulang untuk pertemuan dengan CEO Park?”

 

Sekretarisnya menghubungi selagi pria ini sedang memasang dasi.  Mematut sebentar dengan posisi yang pas kemudian berpindah tangan untuk sebuah sisir.

 

“Siang ini, jam sebelum makan siang.” Ujar sang sekretaris.

“Fine.” Jawab Yifan.

 

Setelah selesai dengan acara berpakaian, dia menuju ke ruang lain, menemui istrinya yang sedang berbicara dengan Bibi Yi lin. Pembicaraan terhenti ketika Yifan muncul. Wanita yang mengarahkan pernikahan adat mereka kemarin itu tersenyum untuk pria yang sudah dianggap sebagai keponakannya itu.

 

“Bibi!” sapanya, dan Jiyeon berdiri dengan susah payah. Yifan datang membantu.

 

“Kenapa kau sudah berpakaian seperti ini?”

“Aku harus bekerja. Banyak hal yang sudah aku tinggalkan selama ini, Bibi.”

“Ya Bibi, kami sudah cukup berbulan madu, meski tidak sampai satu bulan.” Jiyeon pun ikut membantu. Dia pun sebenarnya ingin melakukan sesuatu yang sedikit agak ekstreem hari ini, menemui Jin, dan Bibi Han. Entah apa yang akan terjadi nanti, tapi dia tidak akan selamanya bersembunyi dari mereka.

 

Yifan masih tidak mengatakan dengan siapa dia akan bertemu hari ini pada Jiyeon. Melihat gelagat istrinya ini masih diliputi rasa bahagia, dia tidak ingin merusak suasana dengan mengatakan tentang ayahnya, yang notabene adalah ayah mertuanya juga.

 

“Aku ingin mengajak Jiyeon pergi ke makan leluhur Bibi. Apakah kau mengijinkannya?”

 

“Silahkan saja Bibi. Aku tidak keberatan, asal kau mengembalikannya dengan utuh.”

 

Jiyeon  memutar bola matanya, “Yifan, aku sudah tidak utuh dari sejak aku kecil.”  Tangkis wanita ini, menepuk pundak suaminya.

 

“Bagiku kau sempurna, Sayang!”  kecupnya, dan wajah itu berubah rona.

“Aku selalu iri dengan pengantin baru.”  Bibi Yi lin berjalan menjauh.

“Bibi aku berangkat dulu!”  teriak Yifan, dan wanita itu hanya melambai.

 

“Jiyeon, aku mungkin akan pulang terlambat, jadi tidak usah menungguku untuk makan malam. Mulai sekarang kau harus terbiasa dengan jadwalku yang tak pasti, okay!”

 

“Yi..Yifan…”  agak ragu untuk mengatakannya, tapi dia perlu—

“Apa?”  tangan itu mengusap pipinya,

“Aku… bolehkan aku mengunjungi…”

“Apa?” alis Yifan sudah terangkat sebelah,

“Ke panti asuhan itu.”  sebut Jiyeon kemudian

“Hhhh….untuk apa lagi, kau ke sana?”  agak menghardik, meski bukan itu maksudnya, hanya saja suara yang keluar dari dasar tenggorokan Yifan, sedikit menghentak.

 

Mereka saling menatap sebentar,

“Kalau aku mengatakan tidak mengijinkanmu ke sana, apa kau akan menuruti perkataanku ini?”  ucap pria ini lagi—ragu.

 

“Aku akan bersama Bibi Yi lin.”   Jiyeon berusaha menawar dengan menggunakan nama wanita yang dihormati Yifan itu

 

“Jadi kau tidak mendengarkan perkataan suamimu ini.”  Agak kesal, dan menghela nafas lagi.

 

“baiklah, jika kau tidak mengijinkannya maka aku tidak akan ke sana.”

“Aku bukan tidak mengijinkanmu ke sana, tapi paling tidak, kau harus bersama denganku. Kau tidak boleh ke sana tanpa aku, yang bertanggung jawab atas dirimu. Apa kau mengerti?”

 

Ponsel Yifan bergetar di sakunya lagi, dan waktu memang sudah sangat memaksanya untuk segera berangkat. “look Jiyeon, aku tidak punya waktu untuk berdebat denganmu, jadi aku akan katakan sekali lagi, kau tidak akan ke sana tanpa aku.”  Tegasnya, kemudian mengecup kening istrinya sekali lagi, dan melangkah pergi sambil berbicara dengan seseorang di ponselnya.

 

Jiyeon hanay menggegat bibir agak lama, melihat punggung itu berlalu dari hadapannya. Yah, apa boleh buat jika Yifan tidak mengijinkannya,  maka dia tidak akan ke sana.

 

.

.

.

“Selamat Siang Tn. Park!” Yifan menyambut uluran tangan itu, dan mempersilahkan ayah mertuanya itu untuk duduk.

 

“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”  Pria dengan wajah penuh kharisma itu sedikit menyelami raut muka Yifan yang memasang senyum datar.

 

“Saya rasa tidak.” Jawabnya yakin, karena memang baru kali inilah dia bertemu dengan sang ayah mertua

 

“Kau  menjadi seorang CEO termuda di jajaran pemimpin lain di negara ini.”  Ucapnya. Entah itu pujian atau hanya statemen semata. Yifan, tidak terlalu perduli, hanya berusaha bersikap senormal mungkin meski hatinya diliputi hawa emosi. Bagaimana tidak, dengan membayangkan kondisi Jiyeon yang terbuang dalam kondisi cacat seperti itu ditambah lagi, untuk sebuah alasan tak jelas yang mendasarinya, apa bisa dia dikatakan sebagai manusia, terlebih manusia yang hidup.

 

“Aku hanya menggantikan posisi ayahku, Tn. Park. Masih banyak yang harus saya pelajari untuk bisa menjadi seperti Anda.”  Sedikit merendah untuk membuat suasana sedikit tenang.

 

“Aku tidak melihat kalau kau orang baru. Kita sama-sama berada di dunia bisnis, dan kau tau artinya, setiap orang yang sudah masuk di dalamnya pasti paham dengan istilah peperangan.”

 

“Ya.” Jawab Yifan singkat, dengan memainkan pena di tangannya. Sekretarisnya masuk membawakan dua buah cangkir berukuran sedang. Dia membiarkan cangkir itu diturunkan dari nampan ke atas meja, baru menyambung lagi pembicaraan.

 

“Kita berjalan di bidang yang berbeda, Tuan. Saya rasa kita tidak harus berperang, mungkin kita bisa menjalin kerja sama jika memang itu memungkinkan.”  Usul Yifan. Perkataan ini sudah dia pikirkan betul-betul semalaman, bahkan nyaris tidak tidur.

 

“Tujuanku memang seperti itu. Aku melihat prospek bisnis perusahaanmu sangat menjanjikan, dan kita bisa saling bekerja sama untuk mendukung satu sama lain.”

 

“Saya mengerti.”  Dia mengangguk,  “Ehm—eoh ini dia. Sekretaris Anda mengirimkan email, mengenai profil perusahaan Anda.”

 

“Sudah?”

“Ya, baru saja.” Yifan memperlihatkan layar laptopnya.

“Ya, memang seperti itulah. Kau bisa mempelajarinya dulu, setelah itu orangku akan melakukan presentasi selanjutnya.”

 

Yifan sedikit menahan nafasnya, “Ehm, kenapa Anda tiba-tiba menaruh perhatian pada perusahaan ini Tuan? Adakah sesuatu yang membuat Anda tertarik?”

 

“Aku mendengar beberapa pembicaraan tentang dirimu dan perusahaanmu di berbagai pertemuan yang aku hadiri, dan juga melihatmu sesekali. Aku rasa aku tidak salah untuk memilih partner bisnis untuk ke depannya.”

 

“Begitu…..”  dengan nada menggantung.

 

“Ya, sepertinya itu saja yang ingin aku katakan padamu.”
”Apa Anda ingin makan siang bersama, Tn. Park?” Yifan masih ingin berbicara lebih bayak dengan ayah mertuanya, sekedar menyampaikan uneg-unegnya secara pribadi, dan tentu saja menyangkut hal yang lebih pribadi juga. Masalah keluarga— mungkin.

 

“Boleh saja, tapi aku sudah ada janji dengan istriku di rumah makan Jepang.”

“Kebetulan sekali, sepertinya hubungan kita akan semakin dekat saja.” Kelakar Yifan sambil memamerkan senyum. Toh dia memang harus bersikap santun sehubungan dengan urusan pekerjaan. Bersyukur pria ini masih bisa menjaga emosinya.

 

Beberapa saat kemudian, mereka sudah berada di rumah makan Jepang, dan Yifan sedikit kaget karena ehm, tidak hanya bertemu dengan Ny. Park, tapi juga adik iparnya, Chorong. Di hempasnya nafas ringan—

 

“Yifan Oppa!” sebut gadis itu lirih.

“Apa?”  tn. Park tampak kaget, kemudian melirik Yifan seketika. “Kau mengenal putriku, Chorong?”

“Ah, sepertinya begitu.” Yifan tidak menangkis, dan memberi cengiran brandalnya.

“Dia yang menabrak mobil Chorong beberapa waktu lalu.”  Jawab sang Nyonya,

“Jadi kau juga sudah mengenal dia?”  Pria itu duduk dengan menggeleng bingung.

 

“Kami sudah pernah bertemu.”  Jawab wanita itu, kemudian tersenyum pada menantunya. Mereka saling bertukar senyum sebentar, dan mendapat cemberutan dari Chorong.

 

“Eomma, kenapa kau tampak akrab dengan Yifan Oppa?”

“Kenapa? Kau tidak suka. Eomma hanya berusaha ramah dengan teman bisnis ayahmu.”

“Ya..Ya…” jawab pria itu sambil menepuk-nepuk pahanya. “Kau sudah memesan sesuatu istriku?”

 

“Belum, kami hanya memesan minuman ringan, dan camilan. Setelah memeriksakan kondisi Chorong tadi, aku merasa sedikit kenyang.” Dengan wajah sedikit muram, dan penuh beban. Ada sesuatu yang disembunyikan wanita ini pada suaminya, dan juga Yifan.

 

Chorong menunduk sedih.
”Ada apa, Sayang?”  tangan Tn. Park tertumpang di kepala putrinya.

“Aku tidak apa-apa.” Jawabnya

“Nanti saja, aku ceritakan di rumah. Tidak enak di sini sedang ada tamu. Sebaiknya kita segera memesan sesuatu.”

 

Pembicaraan itu klinis berakhir, setelah mereka sibuk dengan buku menu. Chorong benar-benar kaget bisa bertemu dengan Yifan lagi, terlebih dia kini terlihat begitu tampan dan lebih matang.  Curi-curi pandangan itu diperhatikan oleh ayahnya yang kemudian sempat berpikir untuk menjodohkan putrinya itu dengan Yifan.

 

Berbeda dengan Tn. Park, istrinya itu justru sedang di landa kesusahan. Bagaimana tidak, baru saja dia mendapatkan diagnosa mencengangkan dari dokter yang memeriksa Chorong, bahwa putrinya ini menderita penyakit kelamin. Sungguh nista dan memalukan, dan tak mungkin dia menceritakan ini pada semua orang.

 

Handphone Yifan berbunyi, dan Jiyeon yang menghubunginya. Dia permisi sebentar untuk menerima panggilan masuk itu.

 

“Jiyeon!”

“Yifan, aku tau ini salah, tapi aku tidak bisa menghentikan diriku untuk ke tempat ini.”

 

“Jiyeon, kita sudah membicarakanya bukan.”  Agak kesal.

 

“Maafkan aku.”

“Apa Bibi Yi lin bersamamu?”

“Tidak. Kami berpisah, ketika dia ingin berbelanja keperluan doa. Aku tidak ingin mengganggunya, karena jujur aku bosan.”

“Kau pasti sangat ingin membuat suamimu ini marah, Jiyeon!”

“Tidak! Aku tidak berniat membuatmu marah Yifan.”

“Aku akan menyusulmu sekarang juga.”

 

Sambungan itu dimatikan sepihak, dan Yifan segera menemui keluarga Park kembali.

 

“Maafkan saya, Tn. Park, sepertinya ada keperluan lain yang mendesak. Saya harus menemui seseorang sekarang juga.” Ujarnya permisi.

 

“Eoh begitukah?”

 

“YA. Maafkan saya.” Ujarnya sekali lagi. Tatapan Yifan bergerak mencari Chorong. Di mana gadis itu?

 

“Baiklah jika begitu!” ucap Tn. Park seakan mengerti.  “Aku harap kita bisa bertemu lagi besok.”

 

“Tentu saja, Tuan. Sekretaris saya akan menghubungi Anda untuk pertemuan selanjutnya.”

 

Yifan membungkuk memberi salam, terutama pada ibu mertua yang sangat dihormatinya itu.

 

Ketika dia berlalu, Chorong memasang muka kesal pada ayah dan ibunya.

 

“Ada apa lagi?” tanya ibunya pusing.

“Apa kau tau Eomma, pria itu ternyata sudah mempunyai istri.”

 

Ny. Park agak kaget mendengarnya, “Apa kau menguping, Chorong? Kau sungguh tidak tau sopan santun!”  ucap ibunya, sedangkan Tn. Park mendengus.

 

“Sayang sekali dia sudah mempunyai istri, padahal aku berniat menjodohanmu dengannya, Chorong.”

 

“Appa! Kau tau, dia memang pria yang aku cintai. Dia menolakku terus-terusan sejak dulu.”  Rengek gadis ini sambil meletakkan pantatnya di sisi ayah kesayangannya.

 

“Hhhh…. apa kau tidak punya kekasih Chorong?”

“Tentu saja, dia punya. “ sebut ibunya.

“Eomma ini—“

“Kemarin kau menghubungi Eomma sedang bersama dengan seorang pria. Siapa dia?”  selidik wanita ini meski dia sudah tau siapa pria itu.

“Ah—“ Chorong memerah karena malu. Tentu saja dia tidak jelas siapa yang di maksud sang ibu, karena selama ini dia sudah banyak berkencan dengan beberapa pria.

 

.

.

.

 

Jiyeon menekur di hadapan pria itu—

 

Berdiri mengacuhkan, kemudian berlalu tanpa sepatah kata. Jiyeon pantas diperlakukan seperti ini. Jin tida mengajaknya bicara malah menghindar pergi memasuki ruangan kerjanya dan menutup pintunya dengan kasar.

 

“Oppa!”  sebutnya

“Jiyeon!”  panggil Bibi Han kemudian, menariknya duduk di bangku.

“Bibi, maafkan aku…”

 

Dengan tatapan kecewa dan terluka wanita ini mendengus. “Aku tidak tau apa yang harus kukatakan padamu. “
”Ya, aku memang bersalah.”

“Sangat.”  Jeda sebentar….”Kau membuatku malu sebagai ibunya. Apa kau tau itu.”

Jiyeon mengangguk,

“Semua orang sudah berada di Gereja, menunggumu, tapi apa yang kau lakukan?”

“Aku minta maaf Bibi.”

“Itu sudah tidak penting lagi.” Jawab si wanita

“SURUH DIA PERGI, DAN JAGAN PERNAH MENGINJAKKAN KAKI LAGI DI TEMPAT INI, EOMMA!”  Jin berteriak seperti orang kesurupan dari dalam ruangan kerjanya.

 

Jiyeon mengernyit mendengar suara memekakkan itu. Ibunya menggeleng

 

“Pergilah! Percuma kau datang lagi ke tempat ini. Tidak ada artinya, Jiyeon.”

 

Ada air mata yang menetes di pipi Jiyeon. Baginya tempat ini adalah kehidupannya. Karena keberadaannya di tempat inilah, dia bisa hidup hingga saat ini. Tidak mudah baginya untuk meninggalkan tempat ini begitu saja, atau melupakannya seolah-olah tidak berarti.

 

“Kau sudah mengambil keputusan itu, jadi kau harus bisa menerima konsekuensinya. Hiduplah dengan kehidupanmu yang baru. Jangan pernah datang lagi ke sini, karena itu akan melukai perasaan putraku, dan juga aku.” Ucap wanita ini, dan Jiyeon tersayat mendengarnya. Tentu saja hatinya sedih—

 

BRAKH

 

Jin muncul dari pintu terbuka itu, mendekati Jiyeon dengan tatapan penuh emosi.

 

“KAU INGIN PAMER DI DEPANKU, SETElAH KAU MENIKAH DENGAN SI BRENGSEK ITU, HUH!”  tangannya mencengkram lengan Jiyeon.

 

“Oppa, maafkan aku…” rengek wanita ini kesakitan.

 

“Jin, lepaskan dia!”  ibunya memohon, tapi Jin tidak menggubris.

 

“Hatiku lebih sakit Eomma. Aku tidak paham apa yang ada di otak wanita ini? Apa dia tidak pernah berpikir, siapa yang sudah dinikahinya itu?”

 

“JANGAN SENTUH DIA. BRENGSEK!”  Mendadak Yifan datang dan mendorong tubuh Jin menjauh dari istrinya.  Jin yang trdorong itu segera menghambur, mendorong tubuh Yifan ganti. Bertubi-tubi hingga kemudian Yifan terdesak ke dinging. Punggungnya terhempas keras, dan Jin mengayunkan tinju yang mengenai wajahnya.

 

Jiyeon sudah berpikir, bahwa kejadiannya akan seperti ini lagi.  Ini memang salahnya, tidak mau mendengarkan omongan suaminya sendiri.

 

“Yifan!” susah payah dia tergopoh mendekati sang suami, berusaha melindunginya dari serangan Jin, sampai pada akhirnya—

 

BUG

 

“ARGH!”  tubuh Jiyeon terpanting ke lantai menerima tinju dari tangan Jin.

 

“Jiyeon!” Yifan menggapai tubuh itu, dan memeluknya. Jiyeon pingsan akibat perutnya mendapat tinju mentah Jin. Tatapan Yifan beringas, mengincar Jin. Dia berdiri, kemudian menerjang pria itu dengan pukulan bertubi-tubi. Jin tersngkur ke lantai, dan ibunya menengahi dengan memasang badannya memeluk putranya.

 

“SUDAH….SUDAAAAAAH!” teriaknya histeris. “PERGI KAlIAN DARI SINI! JANGAN MENGGANGGU KAMI lAGI!”  usirnya

 

Yifan tak menggubris, dan berbalik untuk mengambil tubuh istrinya yang masih terkapar di lantai.

 

“Sudah kukatakan padamu, jangan ke tempat ini, Sayang! Kau malah nekat!”

 

.

.

.

Bersambung.

Note. Budayakan LIKE and COMMENT 

 

 

Advertisements

29 Comments Add yours

  1. kwonjiyeon says:

    Miris bnget…jk memng ragu dri awal seharusnya ktkn tidak….agar tak ada yg terluka…chorong kena penyakit kelamin ya ampun mudh2an seokjin g tertular

  2. kwonjiyeon says:

    Miris bnget…jk memng ragu dri awal seharusnya ktkn tidak….agar tak ada yg terluka…chorong kena penyakit kelamin ya ampun mudh2an seokjin g tertular aku jdi kasiaqn sm dia hiks9…

    1. mochaccino says:

      Dua kali komen

      1. kwonjiyeon says:

        Yg satunya k pencet..cet….

      2. mochaccino says:

        Q buka lapak chanhun di skywaveblue.wordpress. khusus chanhun biar gada yg ngerusuh.

      3. kwonjiyeon says:

        Buka lapk baru nih ..husus..

      4. mochaccino says:

        Aku lagi ngefans chanhun banget..

      5. mochaccino says:

        Tau ndiri di wattpad sky udah rame.

      6. kwonjiyeon says:

        Smoga lapak rame banyak yg beli…..trus g ada yg rempong

      7. mochaccino says:

        Ga brharap rame yg ini khusus buat sendiri

      8. kwonjiyeon says:

        Yak…buat sendiri mau trheesome gitu…..bagi atu napa

      9. mochaccino says:

        Boleh lah 3some. Wkwwk..jd obat nyamuk iyak. Hehe…buat chanhun shipper and me

      10. kwonjiyeon says:

        Tpi jiyi g akan di lupainkn

      11. mochaccino says:

        Lha ini balik k wordpress mo nerusin ff lama.

      12. kwonjiyeon says:

        Kkkkkkk…viiis

  3. Sookyung says:

    Jin kalo sudah marah bnr2 yaaaaa,,,,, kasihan Jiyeon kenah tinju jin gara2 ngelindungi Yifan

    1. mochaccino says:

      Sakit hati banget dia. Sapa juga pasti gituh.

  4. Rara Jiyeonni says:

    Aku kira tadi si chorong hamil gegara abis periksa dari dokter. Eh malah sakit :3
    Iya ih jiyeon harusnya nunggu yifan dulu…
    Tapi kasian ama emaknya jin😭😭😭😭 aku g kasian ama jin nya.

    1. mochaccino says:

      Aqooh juga kasian sam Jin…

      1. Rara Jiyeonni says:

        Jin tetep dah naena bebz ama si chorong :v semoga kagak ketularan penyakitnya.

      2. mochaccino says:

        mudah2an ga sih, apa perlu gw cek dulu gitu, ketularan paga?

  5. unha azhari says:

    udh lama nggk ada kbar ni wp,,,,
    dlu wktu mau masuk hrus log in….
    kni dah buka lagi….
    yeeeeeeeee
    ku udh agak lupa ceritanya ,,,hehehe mian….
    tpi seneng authornya dah balik….
    fighting

    1. mochaccino says:

      aku transmigrasi ke Wattpad sama blog

  6. Dwiki says:

    Aigoooi moga aja jiyeon gak knpa2.
    Kapokk tuh si chorong, pnsarran sama reaksi tn.park ntar kalo tau anak kesayangan dia kena penyakit kelamin.

    1. mochaccino says:

      iyamudah2an sih! thanks ya udah mampir k sini lagi.

  7. Hmmm dr pembicaraan dg appa na jiyi,, kesan appa jiyi seakan pny aura gelap, terlalu berwibawa.
    Hahahaha aduuuh adiknya jiyi kena PK 😂
    Hiiiiiiii jin n yifan berantem 🙈
    Ommo!! Jiyi gwenchana?????

    Gomawoo ff ni dilanjutkan 😭

  8. inanova says:

    Hah jiyeon kena pukulan dari jin sampe terkapar.. sadis

  9. Risna says:

    😱😱 Jiyeon sampe pingsan, kasian gara2 kepukul Jin. Jin sakit hati banget.. Jiyeon bukannya nunggu Yifan dulu malah pergi sendir.. Yaudahlah semoga Jiyeon ga apa2..

  10. iineey says:

    Wahhhh jin kalap tuh
    Jiyeon baik2 aja kan??
    Lagian sih dy ga mau denger kata suaminya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s