More and More [14]


 

 

More & More 14

Maincast || Wu Yifan and Park Jiyeon

.

.

.

“Puas?”  Yifan segera menyapa Jiyeon saat istrinya itu membuka mata. Bukan sebuah pertanyaan, tapi memang sindiran. Masih dengan rasa bingung dengan situasi sekitar, Jiyeon menghela nafas pendek. Kenapa dia sudah berada di kamar mereka, saat ini.

 

”Jin memukulmu, dan aku menghabisinya.” kalimat itu sontak membuat Jiyeon bangkit dari rebah.
”Kau apakan?” segera mencari tau dengan muka gelisah

”Kuhajar.”

”Kau menghajarnya?”

”Karena dia memukulmu.”

”Itu hanya kecelakaan, dia tidak sengaja memukulku.”

”Sama saja, aku tidak terima istriku di pukul sampai pingsan.”

 

Jiyeon berdecak—

 

”Bagaimana dia?”

”Berantakan.” Yifan sebenarnya malas menjawab tapi karena istrinya ini tidak akan berhenti sampai mendapatkan kejelasan, dia terpaksa menjawabnya.

 

”Kasihan!”

”Kau sungguh kasihan padanya?”

”Dia itu—”

”Hm?”  menyerang dengan tatapan tajam

”Ah sudahlah.”

 

Jiyeon menggeleng tak percaya mendengar sang suami bicara tanpa beban. Jika kondisinya Yifan masih seperti preman gelandangan seperti dulu, mungkin kalimat itu terdengar pantas, tapi saat ini Yifan terlihat elegant and  haut look e, jauh dari kesan brutal, dan itu agak aneh di kuping.

 

”Aku sudah katakan padamu, untuk tidak ke sana sendirian.”

 

Jiyeon berniat bicara, tapi Paman Wang masuk membawa sebuah gelas. Dia meletakkan di samping Jiyeon.

 

”Minumlah, ini untuk memulihkan tenagamu.” ujarnya

”Terima kasih Paman.”

”Tidak usah sungkan.”

 

Pria itu membungkuk, dan permisi dari hadapan Yifan tanpa bicara lagi.

 

”Minumlah, kau sudah dengar apa yang Paman Wang katakan padamu.”

”Ini apa?”

”Yang jelas bukan racun.”

”Aku tidak terbiasa dengan minuman aneh.”

”Percayalah itu sanggup membuatmu pulih, dan juga menghilangkan rasa nyeri.”

 

Jiyeon tetap menggeleng.

 

”Apa harus aku yang menyuapkannya?”

”Tidak perlu.” buru-buru Jiyeon meneguk minuman yang terasa sedikit asam, dan juga getir pada lidahnya ini. Seumur hidup, dia tidak pernah minum ramuan semacam ini.

 

”Sudah!”  dia menyerahkan gelas kosong itu pada suaminya.

”Aku tadi bertemu ayahmu.” ucapnya saat menerima gelas itu

 

Jiyeon menoleh,

 

”What?”

”Aku bertemu dengan orang tuamu, tapi tadinya tidak ada rencana untuk bertemu mereka.”

”Maksudmu, keduanya?”

”Ya.”

 

Yifan berpindah tempat ke samping istrinya dan mengambil bahunya untuk dipeluk.

 

”Dia memang terlihat sedikit menyebalkan.”

”Apanya?”

”Aku tidak tau. Mungkin ini hanya karena aku terbawa emosi saja, ketika mendengar cerita mengenai kau yang dibuangnya ketika bayi. Itu membuatku kesal dan ingin menghajarnya.”

 

”Yifan, kau tidak selamanya menghajar orang ketika kesal.”

”Memangnya aku harus bagaimana?”

”Mungkin kau bisa mengajaknya bicara.”

”Aku suka bicara, tapi dengan orang yang enak diajak bicara. Pria seperti ayahmu itu tidak enak diajak bicara, aku benci bicara dengan orang semacam itu, Jiyeon.”

 

”Kalian membicarakan apa?”

”Bisnis, tadinya. Tapi kemudian, aku mengajaknya makan siang, tapi tidak jadi ketika kau meneleponku tadi.”  keluh pria ini.

 

”Maaf!”

”Aku juga bertemu Chorong.”

”Siapa Chorong?”

”Adikmu, masa kau lupa, bukankah ibumu sudah pernah mengatakan kalau kau punya adik.”

 

Jiyeon termangu sebentar,

 

”Ini kedengarannya seperti kau sangat akrab dengan adikku.”

”Percayalah, dia dulu mengejarku, tapi aku tidak suka pada sifat manjanya.”

”Apakah dia cantik?” sedikit was-was

“Tidak terlalu.”

”Yifan, aku tidak percaya omonganmu. Dia pasti cantik dan seksi.”

”lalu kenapa? Tidak suka ya tidak suka, lagipula,dia bermasalah dengan Kahi.”  Yifan menyebut nama itu—lupa. Kenapa dia menyebut nama Kahi lagi di depan Jiyeon.

 

”Eum, Kahi.”  ulang Jiyeon seperti yang Yifan duga. Pria ini sungguh menyesal.

 

”Sepertinya ada bagian cerita yang tidak kau ceritakan padaku.”

”Sudahlah, itu tidak penting.”

”Di mana Kahi? Sepertinya kau juga pernah bilang tentang keberadaannya kini.”

”Tidak. Aku tidak pernah mengatakannya. Apakah itu penting?” Yifan berdiri, mengambil handphone di atas meja, dan berjalan ke arah pintu diikutin tatapan curiga sang istri.

 

”Kau harus beristirahat, aku akan kembali ke kantor, untuk menyelesaikan sisa pekerjaanku.”

 

”Kau tidak sedang menghindariku, Bukan?”

”Tidak, Sayang!”

 

Yifan tau kalau istrinya itu pasti tidak puas dengan penjelasan Yifan. Hell, dia tidak menjelaskan apapun, dan untuk apa membeberkan permasalahan yang dianggapnya mengganggu itu.

 

Perasaan bersalah ini memang masih menguasai, tapi mau bagaimana lagi—

 

”Yifan!”  panggil Paman Wang dari pintu dapur. Pria itu  mendekat dengan cepat.

 

”Ada apa?”  Yifan berdiri menghadapi, dan pria yang dia panggil Paman itu tampak sedikit cemas.

 

”Mengenai Nona Kahi.”  ucapnya lirih

”Ada apa dengan Kahi?”  seketika Yifan menjadi fokus, menyimpan ponsel di saku, dan menarik Paman Wang agar tidak terlihat dari lantai dua. Jika Jiyeon melihat, mungkin dia akan semakin curiga.

 

”Nona Kahi sakit di sana. Dia demam, dan terus memanggil Anda.”

”Benarkah?”

”Aku tidak tega membiarkannya sendirian.”

” lalu bagaimana sekarang?”

”Aku tau kau pasti tidak akan mau lagi untuk berkunjung.”

 

Yifan dengan semua dosanya itu benar-benar tak bisa dimaafkan. Dia tau, bahwa dia tidak akan mungkin menghindari rasa bersalah ini. Ditariknya nafas kuat-kuat kemudian memejamkan mata.

 

”Kau tidak usah cemas, aku yang akan  menemaninya.”

”Apa Paman yakin?”  dengan wajah lega,

”Aku kasihan—” menjatuhkan tatapan pada kegelisahan majikannya. Apa boleh buat, dia tidak bisa menghakimi pria ini. Semua hanya masalah perasaan.

 

”Aku tahu, Paman….”

 

Yifan menepuk pundak Paman Wang dan berlalu pergi. Dia melirik ke arah kamar sebelum meninggalkan ruangan.

 

Jiyeon yang bersembunyi di balik dinding ruangan lain, terkejut mendengar pembicaraan tadi. Bukan maksud menguping. Dia tadi, hanya ingin mencari air untuk menetralkan lidahnya yang masih terasa getir, akibat ramuan obat yang diberikan pelayan setia Yifan itu, tapi justru mendengar pembicaraan mereka. Bagaimana ini?

 

Apa yang sebenarnya terjadi?

 

Dia bersirobok dengan tatapan pria itu, ketika ingin berlalu.

”Nyonya!”  Paman Wang sama terkejutnya—

 

”Aku hanya ingin mengambil air, Paman.”

”Biar saya ambilkan!”

”Tidak usah, saya biasa sendiri.”

 

Jiyeon berjalan bersama kruknya menuju ke arah pantry  dengan degup jantung tak menentu. Apa yang harus dia katakan—

 

Tampaknya Paman Wang terus memperhatikan gerak geriknya sampai Jiyeon menuangkan air dingin ke dalam gelas, dan meminumnya dengan perasaan risih.

 

”Apa Anda mendengarkan pembicaraan tadi, Nyonya?”

”Apa?”  Jiyeon menunduk pura-pura tidak mengerti.

”Pembicaraan saya dengan Yifan.”

”Hhh?”

 

Pria itu menghela nafas, sepertinya mengerti meski tanpa ada jawaban pasti sekalipun.

 

”Paman—”

”Saya tau, Anda pasti mendengar.”

 

Mereka saling menatap lagi,

 

”Aku tidak tau harus mengatakan apa tentang semua ini. Yifan—”

”Dia meninggalkan  kekasihnya itu demi Anda.”

”Ya.”  haruskah Jiyeon merasa bangga? Kenyataanya dia merasa bersalah atas semuanya.

”Kahi dan aku berteman sejak kecil, Paman.”

”Begitukah?”

 

Pria itu tampak kaget.

 

”Hanya saja Kahi memang sedikit special.”

”Nona Kahi sangat mencintai Yifan.”

”Aku tau……aku tau ini tidak adil untuknya.”  Jiyeon melengos menyadari bahwa semua ini memang kesalahan mereka berdua.  Yifan mendatanginya, jatuh cinta, kemudian menculik dan menikahinya. Semua berjalan dalam waktu yang singkat. Teramat singkat untuk menyebut semua ini adalah cinta. Cinta yang membutakan hubungan persahabatan, persaudaraan dan segala-galanya. Kenapa cinta ini terasa begitu kejam dan dirinya menjadi pecundang.

 

”Baiklah—” Paman Wang berlalu, dengan muka pias.

”Apakah Paman akan mengunjunginya?”

”Hanya aku yang mengujunginya. Dia tidak mempunyai siapa-siapa.”

 

Diam-diam pria ini sebenarnya mempunyai perasaan tersendiri setelah sekian lama mengurus wanita yang dicampakkan oleh majikannya. Kahi bergantung padanya, dan semua hal buruk yang dilakukan padanya berdampak juga untuk kehidupannya. Wang mungkin menyukai Kahi, karena wanita itu sudah banyak menangis, merana menanti Yifan setiap harinya. Tapi pria ini sudah berumur, dia tidak mungkin mendapatkan simpati dari wanita itu. Kahi sangat mencintai Yifan. Pria itu dipujanya hingga ke sumsum tulang.

 

.

.

.

 

”Apa Eomma sudah mengatakan pada Appa mengenai penyakitku?”  Chorong terlihat panik dan pucat.

 

“Belum. Eomma menunggu sampai kau sembuh dari sakitmu.”

”Kapan aku akan sembuh? Aku takut semua orang akan tau tentang penyakitku, Eomma.”

 

Wanita ini mengusap kepala putrinya.

 

”Bagaimana kalau kita ke Australia. Kita bisa mengatakan pergi untuk berlibur.”

 

Chorong memeluk ibunya dan terharu. ”Eomma, aku tidak menyangka kalau kau memperhatikanku seperti ini.”

 

Eomma selalu memperhatikanmu, tapi tidak ingin  memanjakanmu seperti Appa. Tidak baik jadinya, dan lihatlah, kau mendapatkan apa yang seharusnya tidak kau dapatkan.”

 

”Aku tau, Eomma. Aku berjanji tidak akan melakukan sex bebas lagi.”

 

”Bagaimana dengan pria itu, yang terakhir tidur denganmu. Siapa dia? Jin?”

 

Chorong membelalakan mata mendengar nama pria itu disebut ibunya. ”Bagaimana Eomma bisa tau?”

 

Eomma menyelidikinya. Apa kau pikir eomma tinggal diam begitu saja.”

”Tapi bukan dia yang menularkan penyakit ini.”

Eomma hanya cemas, dia tertular. Apa tidak sebaiknya kau katakan padanya untuk memeriksakan diri juga.”

”Eomma, masa aku harus bilang pada Ajussi itu kalau aku menularkan penyakit kelamin padanya.”

 

”Hhh….semoga saja dia tidak tertular. Eomma juga pasti malu untuk mengatakannya.”

 

Chorong tersenyum, ”Eomma, Ajussi itu tampan sekali.”

”Kau masih kecil Chorong. Dia sudah seumuran Eonnie-mu. Mungkin lebih.”

 

Choeong merengut. ”Eonnie?” sebuatnya

 

Ny. Park tersentak, lupa jika Chorong tidak pernah tau kalau dia mempunyai kakak perempuan yang kini sudah menikah.

 

”Sudahlah, Eomma akan memesan tiket pesawat ke Australia, sekaligus mencari dokter kompeten di sana.”

 

”Tunggu!” cegah Chorong ketika ibunya bangkit dari kursi

”Apalagi?”  wanita ini ketar-ketir dengan tatapan curiga putri nomor duanya ini

”Kau bilang aku punya Eonnie, Eomma?”

”Hanya menganggap seperti itu, Chorong.”

”Kupikir aku punya Eonnie.”

”Apa kau senang jika kau punya Eonnie?”

 

Chorong menggeleng. ”Aku tidak suka jika di rumah ini ada putri yang lain. Aku tidak suka ada yang menyaingiku.”

 

Ny. Park menggeleng jengah.  Dari mana sifat jelek itu diturunkan— sambil menatap foto suaminya di dinding kamar Chorong.

 

.

.

.

 

”Han Ajjuma, apa aku bisa bicara pada Jin sebentar?”

Kenapa Jiyeon masih saja bersikeras ingin bicara pada pria itu, padahal jelas-jelas Jin tidak sudi lagi untuk bertemu dengannya.

 

”Jiyeon, sudahlah! Biarkan dia sendiri, jangan mengganggunya lagi. Aku tidak bisa melihatnya begini terus. Kalian sangat menghancurkan perasaannya, terutama kau. Jangan ke sini lagi, jangan menampakkan diri di hadapannya, atau aku yang akan sekarat melihat putraku menderita. Kumohon, hentikan ini. Lanjutkan hidupmu, dan biarkan dia menghapus dirimu pelan-pelan—”

 

Permintaan itu memukul batin Jiyeon. Dia hanya ingin mengatakan maaf, tapi mungkin memang itu tidak akan efektif. Permintaan maaf itu hanya akan membuat Jin semakin terhina sebagai pria.

 

”Nona, kita akan ke mana?”  sopirnya menoleh.

”Ke mana mobil Paman Wang tadi?”  Jiyeon berusaha mengikuti pria itu untuk mengunjungi Kahi.

”Dia memasuki bangunan itu!” Tunjuk sang sopir ”

 

Jiyeon diam sebentar, menimang sendiri apa yang akan dia lakukan. Ini bertentangan dengan keinginannya, tapi dia ingin mengunjungi Kahi, mencari tau apa yang terjadi sebenarnya dengan perempuan itu sepeninggal Yifan.

 

”Nona, itu mobil Tuan Wu!” tunjuk sang sopir lagi, dan Jiyeon gemetar. Kenapa Yifan pun ikut mengunjungi Kahi, bukankah tadi dia mengatakan sudah menyerahkan semua itu pada Paman Wang. Jangan-jangan—

 

Dia menggeleng sekali, mengusir pikiran buruk dan rasa curiga. Yifan pasti hanya ingin bersikap simpati pada Kahi, mengingat gadis itu dulu adalah kekasihnya, dan Kahi masih mencintai Yifan, sampai dia menjadi gila seperti itu.

 

Handphonenya berbunyi,

 

Eomma!” sapa Jiyeon kemudian.

 

”Kau di mana?”

 

”Aku sedang di jalan, ingin mengunjungi teman.”

 

”Di mana suamimu?”

 

”Dia ada urusan.”

 

Eomma ingin bertemu denganmu.”

 

”Baiklah, aku juga sedang tidak ada kegiatan.”

 

”Di kaffee seperti biasanya?”

 

”Oke, aku akan segera ke sana.”

 

 

Beberapa menit kemudian, mereka bertemu di kaffee biasa. Jiyeon sudah datang lebih dulu, dan memesan segelas minuman segar buah tropis. Matanya sedang mengawasi kegelisahan ibunya.

 

”Ada apa?”  tanyanya kemudian,

 

”Adikmu, sepertinya eomma sangat khawatir tentang dia.”

 

”Apa yang terjadi?”

 

”Dia menjalin hubungan dengan seorang pria.”

 

Jiyeon mengangguk. Dia kurang mengerti jadi hanya itulah tanggapan yang dia berikan.

 

Eomma akan membawanya ke Australia sementara ini.”

 

”Memangnya kenapa? Apakah Eomma tidak menyetujui  hubungan dengan pria itu?”

 

”Ah, bukan seperti itu—”   menggeleng bingung

 

Jiyeon masih menunggu penjelasan.

 

”Ini, karena selama ini adikmu melakukan sex bebas, dia mempunyai penyakit kelamin, dan eomma berniat untuk membawanya berobat ke Australia.”

 

”O Tuhan, separah itu adikku?”

 

”Ya, dia sangat manja dan aku tak bisa menjelaskannya. Dia berbeda— tidak sepertimu. Eomma bahkan tidak pernah didengarnya.”

 

”Apakah kami bisa bertemu?”

 

” lain kali saja! Kau tau, dia itu tadinya menyukai Yifan, dan entah bagaimana sekarang, kalau dia tau kau adalah istri dari pria yang dia sukai.”

 

”Begitukah?”

 

”Ya. Dia nakal sekali.”

 

”Kenapa sejauh itu eomma membawanya sampai Australia? memangnya di sini tidak bisa?”

 

”Eomma hanya tidak mau Appa-mu sampai tau. Dia sangat memanjakan Chorong, dan tidak ingin hal tercela terjadi pada putrinya. Dia akan sangat kecewa.”

 

”Biarkan Appa tau, sehingga dia bisa mengerti bagaimana kelakuan Chorong selama ini.”

 

Ibunya mengangguk,

 

”Ini mengenai pria itu.”

 

”Siapa dia?” tanya Jiyeon

 

”Kau pasti tau.”

 

”Siapa?”

”Waktu itu eomma mendapat kiriman foto dari adikmu, dan sepertinya pria itu Jin.”

 

Jiyeon tersentak kaget. ”Jin Oppa?”

 

”Ya.”

 

”Mereka—” Jiyeon tak sanggup mengeluarkan komentar, takut salah bicara. Akhirnya sebuah decakan saja yang sanggup dia sampaikan.

 

”Jin Oppa, pasti hanya menganggap ini sebagai pelarian.”

 

”Chorong pun pasti tidak serius dengannya, hanya saja eomma khawatir, jika Jin mungkin tertular penyakit itu.”

 

Wajah Jiyeon merona. Meski ini tidak ada sangkut paut dengannya, tapi mendengar Jin sudah berhubungan dengan seorang wanita, terlebih ternyata wanita itu adalah adiknya, rasanya tetap saja risih.

 

”Aku tidak tau harus bagaimana.”

 

”Jin tidak tau, kalau Chorong adalah adikmu.”

 

”Ya.”

 

”Kau sudah bertemu dengannya?”

 

”Dia tidak mau bicara padaku. Tadi kami bertemu hanya sebentar, tapi dia begitu emosi, sampai harus berkelahi dengan Yifan.”

 

”Oh Tuhan!”  wanita itu membungkam mulutnya

 

”Bibi Han mengatakan, aku jangan lagi menemui Jin Oppa, agar dia bisa menyembuhkan luka hatinya.”

 

”Tck!”

 

”Kapan Eomma akan berangkat ke Australia?”

 

”Minggu depan. Tadi aku sudah memesan tiket perjalanan dan akomodasi untuk satu bulan di Australia.”

 

”Lama sekali, apa Appa tidak akan curiga?”

 

”Dia pasti curiga, tapi biarlah. Kalaupun dia harus tau, biarkan saja. Yang jelas Chorong bisa sembuh dan menenangkan diri sambil berlibur.”

 

 

Jiyeon hanya tak habis pikir dengan pembicaraan yang baru saja dia lakukan bersama ibunya. Kenapa semua ini  rasanya seperti terkait antara satu dengan lainnya. Adiknya pernah menyukai Yifan, lalu menjalin dengan Jin. Bukankah ini sebuah kebetulan yang aneh. Seandainya memang diantara adiknya dan Jin akan menjadi serius di masa yang akan datang, itu artinya mereka akan menjadi satu keluarga.

 

Jiyeon membuka pintu dan mendapati Yifan sudah menunggunya. ”Kau dari mana?”

 

”Bertemu eomma.”  Jiyeon menjeda sebentar kalimatnya sebelum akhirnya duduk di sisi suaminya. ”Katanya kau pulang malam?”

 

”Tidak jadi.” jawab Yifan singkat

 

Tentu saja, mungkin karena tadi suaminya ini menemui Kahi. Ingin rasanya bertanya masalah itu, tapi kenapa tidak berani. Peluh menetes di pipi Yifan saat berpaling menatapnya.

 

”Aku tadi menemui Kahi.” ucapnya datar. Akhirnya dia mengatakannya sendiri, dan Jiyeon mengangguk tanpa rasa kaget. Sedikit lega, karena suaminya ini mau bicara jujur.

 

”Dia sangat menyedihkan.” lanjutnya dengan muka murung. Suasana hatinya sedang tidak baik, dan ini adalah kali pertama Jiyeon menghadapi atmosfer berbeda dari seorang Yifan.  Apa yang harus dikatakannya? Semua permasalahan itu terjadi karena mereka, dan Jiyeon ikut andil menghancurkan kehidupan Kahi.

 

”Aku…merasa bersalah, Yifan. Kau tau, jika kau begitu kasihan padanya, kenapa dulu kau mengejarku dan memaksaku menikahi denganmu?”

 

Mereka saling menatap—

 

.

.

.

 

Bersambung.

Note.

HAPPY JIYEON’S DAY!

 

 

Advertisements

6 Comments Add yours

  1. rara jiyeonni says:

    Iya. Ini saling terkait jiyeon-yifan-jin-chorong-kahi tambah wang. Jadilah keluarga yang harmonis.. /heleh/

    Rumit sih perjalanan hidupnya jiyeon ama kris ada aja masalahnya..
    Tapi kadang juga kasian ama jin .bener kata emaknya jin. Jiyeon g usah temuin jin dulu. Biar rasa kecewa jin sedikit ilang dulu. Tapi pasti susah.ditinggal dihari pernikahan.

    #HappyJiyeonDay

  2. sookyung says:

    Klo appa Jiyeon chorong tau klo chorong putriny yg sllu dibangga2kn mempunyai pnykit klmin ,gimna reaksinya yaaa????? Setidakny Jiyeon lebih baik dlm hal sikap dan pergaulan, meskipun kekurangan dlm hal fisik tp baik akan sikap dan perilakunya pd org lain.

  3. Eomma na jin semangat bgt larang jiyi tuk temui anak na,,
    Hahahaha lucu saat bahas ttg adiknya jiyi, Eomma jiyi syg bgt dg anak2 na 😄
    Kpn nih giliran jiyi jumpa dg appa na?

    1. mochaccino says:

      Nanti tunggu aja. Mungkin stelah eommanya k australia

  4. iineey says:

    Banyak yah masalah jiyeon ini
    Blm selesai 1 ehh masalah lain menyusul
    Tp untung lah ada yifan, mereka bisa lalui bersama deh
    Rada greget deh sama appa nya jiyeon, jd pengen cepet2 appanya tau klo yifan nikah sama anaknya yg di terlantarkan

  5. bb says:

    Bersambung yg menyakitkan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s